Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarrokatuh.
Welcome,
di blog
saya Dewi Yunita. Gimana kabarnya nih semuanya semoga tetap baik-baik saja. Tetap stay safe dan tetap #dirumahaja ya teman-teman.
Nah Dalam blog kali ini saya akan membahas mengenai Desa Wisata Religi di Balun Lamongan yang Dijuluki Desa Pancasila Berkat Keragamannya.
Nah Dalam blog kali ini saya akan membahas mengenai Desa Wisata Religi di Balun Lamongan yang Dijuluki Desa Pancasila Berkat Keragamannya.
Desa Balun Kecamatan Turi
Kabupaten Lamongan Jawa Timur dikenal sebagai Desa Pancasila karena keragaman
pemeluk agama yang hidup berdampingan secara damai. Dan desa tersebut
dinobatkan sebagai desa wisata religi. Menurut Kepala Desa Balun Khusyairi,
pada dasarnya Desa Balun sudah memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Jadi
ketika dikelola dengan benar akan semakin memberi dampak yang baik pula
masyarakat. "Desa Balun sangat layak menyandang sebagai Desa Wisata
Religi. Karena sudah memiliki embrio, kebudayaan dan kesenian yang bisa menarik
wisatawan," kata Kusyairi kepada SURYA.co.id, Rabu (30/10/2019).
Desa Balun selama ini sudah
akrab mendapat julukan Desa Pancasila karena keberagaman warganya.
Meski masyarakatnya berbeda
keyakinan keagamaan, tetapi bisa hidup rukun tanpa pernah ada gesekan sekecil
apapun. "Di sini (Desa Balun, red) hidup berdampingan 3 pemeluk agama.
Yaitu Islam, Kristen dan Hindu," ungkapnya. Hidup rukun dan damainya 3
pemeluk agama di desa menjadi nilai jual dalam menarik minat wisatawan untuk
datang ke Desa Balun sambil melakukan penelitian.
Selain rukunnya 3 pemeluk
agama, potensi wisata lainnya yakni budaya.
Budaya atau potensi yang
dimiliki Desa Balun bisa dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menjadi daya
tarik wisatawan."Kami juga punya agenda tahunan semacam pawai Ogoh-ogoh
yang banyak dikunjungi masyarakat dari luar Kota Lamongan," katanya. Balun
juga punya kesenian karawitan dan banyak budaya lain yang bisa gali. Desa telah
menuju itu dan diharapkan untuk meningkatkan APBDes.
Potensi wisata religi
bernafaskan semangat kebangsaan di Desa Pancasila ini kian kental. asalnya, di
desa ini juga ada Makam Mbah Alun atau makam Tawangalun 3, salah satu dari
santri Sunan Drajat. Tiap malam Jumat Kliwon, kompleks makam yang berada tak jauh
dari kompleks 3 tempat ibadah di desa Balun ini selalui ramai dengan peziarah.
Meskipun secara jumlah agama mayoritas tetap Islam yaitu 75 persen (3498 orang
dari 4.644 jumlah total penduduk) dan agama yang paling sedikit adalah Hindu
yaitu 7 persen (289 orang) serta sisanya agama Kristen 18 persen (857 orang),
tekanan ataupun perlakuan sewenang-wenang tentang agama tidak pernah ada.
Masing-masing dari mereka saling menjaga. Begitu pula tidak ada pengelompokan
tempat tinggal berdasarkan agama, mereka campur dan menyebar merata.
Bupati Lamongan Fadeli
menyampaikan, penobatan Desa Balun sebagai desa wisata religi ini dirasa tepat.
Pasalnya, selama ini Desa Balun sudah dikenal menjadi salah satu ikon Lamongan
yang sudah sampai ke tingkat nasional dan mendunia. "Inilah yang menjadi
ikon-nya Lamongan, salah satunya di Desa Balun ini yang memang perlu terus kita
angkat. Dengan harapan potensi yang kita kembangkan ini bisa menjadi ikon atau
kekuatan yang ada di desa ini menjadi inspirasi di desa-desa lain. Ikon-nya
Lamongan terus bertambah lagi, desa-desa wisata bertambah lagi, menginspirasi
desa-desa yang lain," kata Bupati Lamongan, Fadeli saat peresmian Desa
Balun sebagai desa wisata religi.
Fadeli menambahkan, mereka
sengaja me-launching desa wisata religi untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan
ketenaran Balun sebagai desa wisata dan Desa Pancasila. Ia berharap peresmian
ini akan mendorong banyak desa di Lamongan untuk semakin sadar dalam
mengembangkan potensi desa. "Kita tunjukkan Desa Balun ini menjadi ikon-nya
agama-agama dan kebersamaannya. Kita bayangkan, di sini ada masjid, di depannya
ada gereja, di sebelahnya ada pura. Tapi bisa hidup berdampingan, guyup, rukun,
bahkan lebih rukun daripada di tempat lain," imbuh Fadeli. Banyak
perguruan tinggi yang datang ke desa ini dan mengenalkan Desa Balun sebagai
salah satu desa wisata religi di Lamongan. Unisla Lamongan pernah datang ke
desa ini dan mengemas desa ini dengan berbagai hal menarik seperti pojok selfie
atau grafiti yang meneguhkan desa ini sebagai desa yang bhinneka. Perguruan
tinggi lainnya adalah Universitas Bhayangkara (Ubara) yang pernah menjalani KKN
Tematik di desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Turi itu. Tak kurang, Rektor
Universitas Bhayangkara Brigjen Pol (purn) Edy Prawoto pun datang ke desa ini
dan melihat secara langsung potensi desa ini. Pengembangan desa Balun sebagai
desa wisata religi ini diharapkan bisa menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan
kesejahteraan bagi masyarakat. "Saat ini mungkin aspek budayanya lebih
dulu, tapi nanti akan berkaitan dengan aspek ekonomi. Yang mana aspek ekonomi
akan menjadi daya jungkit desa ini yang berkaitan dengan kesejahteraan
masyarakat," ujar Edy ketika itu.
Sekian
yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalamu'alaikum
wr. wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar