Selasa, 31 Maret 2020

Desa Pancasila di Lamongan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrokatuh.
Welcome, di blog saya Dewi Yunita. Gimana kabarnya nih semuanya semoga tetap baik-baik saja. Tetap stay safe dan tetap #dirumahaja ya teman-teman.
Nah Dalam blog kali ini saya akan membahas mengenai Desa Wisata Religi di Balun Lamongan yang Dijuluki Desa Pancasila Berkat Keragamannya.


Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Jawa Timur dikenal sebagai Desa Pancasila karena keragaman pemeluk agama yang hidup berdampingan secara damai. Dan desa tersebut dinobatkan sebagai desa wisata religi. Menurut Kepala Desa Balun Khusyairi, pada dasarnya Desa Balun sudah memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Jadi ketika dikelola dengan benar akan semakin memberi dampak yang baik pula masyarakat. "Desa Balun sangat layak menyandang sebagai Desa Wisata Religi. Karena sudah memiliki embrio, kebudayaan dan kesenian yang bisa menarik wisatawan," kata Kusyairi kepada SURYA.co.id, Rabu (30/10/2019).

Desa Balun selama ini sudah akrab mendapat julukan Desa Pancasila karena keberagaman warganya. 
Meski masyarakatnya berbeda keyakinan keagamaan, tetapi bisa hidup rukun tanpa pernah ada gesekan sekecil apapun. "Di sini (Desa Balun, red) hidup berdampingan 3 pemeluk agama. Yaitu Islam, Kristen dan Hindu," ungkapnya. Hidup rukun dan damainya 3 pemeluk agama di desa menjadi nilai jual dalam menarik minat wisatawan untuk datang ke Desa Balun sambil melakukan penelitian.
Selain rukunnya 3 pemeluk agama, potensi wisata lainnya yakni budaya. 

Budaya atau potensi yang dimiliki Desa Balun bisa dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan."Kami juga punya agenda tahunan semacam pawai Ogoh-ogoh yang banyak dikunjungi masyarakat dari luar Kota Lamongan," katanya. Balun juga punya kesenian karawitan dan banyak budaya lain yang bisa gali. Desa telah menuju itu dan diharapkan untuk meningkatkan APBDes.

Potensi wisata religi bernafaskan semangat kebangsaan di Desa Pancasila ini kian kental. asalnya, di desa ini juga ada Makam Mbah Alun atau makam Tawangalun 3, salah satu dari santri Sunan Drajat. Tiap malam Jumat Kliwon, kompleks makam yang berada tak jauh dari kompleks 3 tempat ibadah di desa Balun ini selalui ramai dengan peziarah. Meskipun secara jumlah agama mayoritas tetap Islam yaitu 75 persen (3498 orang dari 4.644 jumlah total penduduk) dan agama yang paling sedikit adalah Hindu yaitu 7 persen (289 orang) serta sisanya agama Kristen 18 persen (857 orang), tekanan ataupun perlakuan sewenang-wenang tentang agama tidak pernah ada. Masing-masing dari mereka saling menjaga. Begitu pula tidak ada pengelompokan tempat tinggal berdasarkan agama, mereka campur dan menyebar merata.

Bupati Lamongan Fadeli menyampaikan, penobatan Desa Balun sebagai desa wisata religi ini dirasa tepat. Pasalnya, selama ini Desa Balun sudah dikenal menjadi salah satu ikon Lamongan yang sudah sampai ke tingkat nasional dan mendunia. "Inilah yang menjadi ikon-nya Lamongan, salah satunya di Desa Balun ini yang memang perlu terus kita angkat. Dengan harapan potensi yang kita kembangkan ini bisa menjadi ikon atau kekuatan yang ada di desa ini menjadi inspirasi di desa-desa lain. Ikon-nya Lamongan terus bertambah lagi, desa-desa wisata bertambah lagi, menginspirasi desa-desa yang lain," kata Bupati Lamongan, Fadeli saat peresmian Desa Balun sebagai desa wisata religi.

Fadeli menambahkan, mereka sengaja me-launching desa wisata religi untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan ketenaran Balun sebagai desa wisata dan Desa Pancasila. Ia berharap peresmian ini akan mendorong banyak desa di Lamongan untuk semakin sadar dalam mengembangkan potensi desa. "Kita tunjukkan Desa Balun ini menjadi ikon-nya agama-agama dan kebersamaannya. Kita bayangkan, di sini ada masjid, di depannya ada gereja, di sebelahnya ada pura. Tapi bisa hidup berdampingan, guyup, rukun, bahkan lebih rukun daripada di tempat lain," imbuh Fadeli. Banyak perguruan tinggi yang datang ke desa ini dan mengenalkan Desa Balun sebagai salah satu desa wisata religi di Lamongan. Unisla Lamongan pernah datang ke desa ini dan mengemas desa ini dengan berbagai hal menarik seperti pojok selfie atau grafiti yang meneguhkan desa ini sebagai desa yang bhinneka. Perguruan tinggi lainnya adalah Universitas Bhayangkara (Ubara) yang pernah menjalani KKN Tematik di desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Turi itu. Tak kurang, Rektor Universitas Bhayangkara Brigjen Pol (purn) Edy Prawoto pun datang ke desa ini dan melihat secara langsung potensi desa ini. Pengembangan desa Balun sebagai desa wisata religi ini diharapkan bisa menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat. "Saat ini mungkin aspek budayanya lebih dulu, tapi nanti akan berkaitan dengan aspek ekonomi. Yang mana aspek ekonomi akan menjadi daya jungkit desa ini yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat," ujar Edy ketika itu.

Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalamu'alaikum wr. wb.





Minggu, 22 Maret 2020

The Other Side of the Corona Virus

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrokatuh.
Welcome, di blog saya Dewi Yunita. Dalam blog kali ini saya akan membahas mengenai sisi lain dari virus corona atau covid-19 yang sekarang telah menjadi bencana yang melanda seluruh dunia.

the other side of the corona virus

Disini saya akan membahas sisi lain dari virus corona bukan dalam konteks kesehatan atau penyakitnya. seperti virus corona itu apa, gejalanya bagaimana atau yang lainnya melainkan saya akan membahas mengenai dampak yang terjadi pada kita yang terjadi pada lingkungan di sekitar kita ataupun sampai pada wilayah Indonesia.

Saya merasa disaat diri kita mengisolasi diri sendiri pada saat ini ternyata uang jajan kita juga ikut terisolasi. bener gak? :D yang sekolah diliburkan yang kuliah juga diganti dengan sistem daring/online yang membuat kita harus diam di rumah tanpa uang saku. seakan-akan uang kita juga ikut dikarantina. yaudahlah ya kesehatan dan keselamatan lebih penting dan tetap menjadi prioritas utama. ya nggak?

Alhamdulillah lahya sisi positifnya dengan adanya virus corona ini kita bisa belajar banyak hal yang pertama yaitu betapa kita itu butuh banget dengan mempersiapkan diri atau mempersiapkan masa depan dan bisa menjadi orang yang bisa ditempatkan dimana aja bisa survive. kenapa? karena ga semua orang itu bisa survive atau bisa ditempatkan pada situasi dan kondisi apapun. yang namanya berada dikondisi yang berbeda maka ketika dia berhadapan atau menghadapi suatu masalah atau suatu ujian, cobaan, atau pergerakan yang yang besar dalam hidupnya namun disaat itu dia ga siap.

Disini bukan hanya keuangan aja yang melemah tapi juga diri kita juga bisa melemah dan itu jangan sampai terjadi.

Virus corona ini memberikan banyak sekali dampak, terutama dalam pergerakan ekonomi yang terjadi di seluruh dunia. dari mulai perusahaan besar sampai pedagang-pedagang kecil. Situasi di negara seluruh dunia ini sudah mulai gawat darurat. Karena memang satu dunia di lockdown dan perekonomian jadi membeku. jual beli turun dan akhirnya dampaknya kemana-kemana. imbasnya ke semua aspek dan semua sektor bisnis. 

Tapi yang sekarang harus kita pikirkan adalah bagaimana nasib pedagang-pedagang kecil. pedagang yang jualan di sekolah misalnya. Sekolah diliburkan. Lalu bagaimana mereka mengandalkan penghasilan dari anak-anak yang jajan di sekolah. Terkadang mereka jualan bukan hanya mencari untung. Tapi mereka jualan supaya bisa menghidupi anaknya, agar bisa makan, bukan makan besok makan hari ini bahkan. Lalu bagaimana nasib mereka bila perekonomian semakin kacau. akhirnya semua kebutuhan mengalami inflasi, Sedikit demi sedikit kebutuhan bahan pokok mulai naik saat ini. Bagaimana jika kita yang berada di posisi mereka. :(

Mari kita semua berdo'a agar Allah berhentikan virus corona ini.Doa adalah senjatanya orang beriman, doa adalah obat yang paling bermanfaat, doa pula yang akan menolak wabah/bala, membereskan, dan menahannya agar tidak terjadi serta mengangkat atau meringankan bila wabah/bala itu benar-benar telah terjadi di sekeliling kita. Semoga covid-19 ini cepat hilang dari bumi ini. Aamiin.. 

Rosululloh SAW Bersabda :
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

“Virus corona bagaikan satu noda titik yang mengotori baju putih bersih, kemudian kita bersihkan noda itu, efeknya bukan hanya membasahi bagian yang terkena noda saja, tetapi seluruh baju itupun ikut merasakan basah,”

Sekian dari saya, jika ada salah kata mohon maaf..
Wassalamu'alaikum warrohmatullahi wabarrokatuh.